Polresta Ambon Turut Sukseskan Kegiatan Tradisi Budaya yakni adat Maa’tenu atau atraksi Cakalele Di Negeri Pelauw

Polrest P.Ambon & P.P lease – kepolisian Resor kota Ambon Bersama Dengan Personil Gabungan Dari Polda Dan TNI Melaksanakan Pengamanan Tradisi Budaya yakni adat Maa’tenu atau atraksi Cakalele. Di Negeri Pelauw Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah,

Kapolresta Kombes Pol Raja Arthur L.Simamora S.I.K mengatakan Bahwa Setiap daerah di Indonesia menyimpan keunikan tersendiri, seperti bahasa daerah, pakaian adat, makanan khas, maupun kebiasaan masyarakatnya. Maka daerah Pulau haruku yang merupakan bagian dari Provinsi Maluku Tengah juga memiliki tradisi yang unik yakni adat Maa’tenu atau atraksi Cakalele. Ujarnya

Kapolresta P.Ambon & P.P Lease Kombes Pol Raja Arthur L.Simamora S.I.K juga Bertugas Sebagai KAPAMWIL Pada Kegiatan Tradisi budaya ini,

“Kegiatan Tradisi Maa’tenu atau cakelele, Tradisi budaya yang menguji kekebalan tubuh menggunakan senjata tajam (parang) oleh masyarakat Negeri Pelauw ini diadakan 3 tahun sekali meski sempat fakum selama kurang lebih 13 tahun ini akan tetapi kegiatan seperti ini harus terus dikembangkan, , Maka Dari Itu Kehadiran Personil Gabungan TNI Polri ini di harapkan agar kegiatan Ini dapat berjalan Aman dan Lancar” ucapnya.

Turut Hadir Dalam kegiatan ini Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol Lotharia Latif, Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Ruruh A Setyawibawa, Danlantamal IX/Ambon, Brigjen TNI Said Latuconsina, Kabinda Maluku, dan stakeholder lainnya.

“Selaku Kapolda Maluku saya sangat memberikan apresiasi atas terselenggaranya budaya Ma’atenu ini. Saya juga menyampaikan terima kasih karena kegiatan ini dapat berjalan dengan aman dan lancar,” kata Kapolda.

Meski terbilang ekstrim, namun tradisi tersebut merupakan hal yang unik dan dapat menarik para wisatawan.

Selain itu, kata Kapolda, budaya Ma’atenu ini memiliki banyak filosofi. Di mana kegiatan ini menunjukan semangat, keberanian, dan persatuan dalam kebersamaan.

Kapolda berharap tradisi Cakalele ini dapat terus dirawat dan dilestarikan. Sehingga juga bisa menjadikannya sebagai wisata budaya.

“Budaya ini harus terus dilestarikan, karena dapat menarik wisatawan baik lokal, nasional maupun mancanegara datang untuk menyaksikan salah satu tradisi khas dari warga Pelauw ini,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *